Selasa, 31 Juli 2012

* TATA CARA MANDI JUNUB BAGI WANITA



Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau berkata:

... كُنَّاإِذَأَصَابَتْ إِحْدَانَاجَنَابَةٌأَخَذَتْ بِيَدَيْهَاثَلَاثًافَوْقَ رَأْسَهَا ثُمَََّ تَأْخُذُ بِيَدِهَا عَلَى شِقِّهَاالْأيَْمَنِ وَبِيَدِهَااْلأُخْرَى عََََلَى شِقِّهَااْلأ يْسَرِ

“Kami ( istri-istri Nabi) apabila salah seorang diantara kami junub, maka dia mengambil (air) dengan kedua telapak tangannya tiga kali lalu menyiramkannya di atas kepalanya, kemudian dia mengambil air dengan satu tangannya lalu menyiramkannya ke bagian tubuh kanan dan dengan tangannya yang lain ke bagian tubuh yang kiri.” (Hadits Shahih riwayat Bukhari: 277 dan Abu Dawud: 253)

Seorang wanita tidak wajib menguraikan (melepaskan) jalinan rambutnya ketika mandi karena junub, berdasarkan hadits berikut:

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha berkata:

قُاْتُ ياَرَسُولَ اللهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَرَأْسِي أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ قَالَ:لاَإِنَّمَايَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيْنَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ مِنْ مَاءٍثُمََّ تُفِيْضِيْنَ عَلَى سَائِرِ جَسَادِكِ الماَءَ فَتَطْهُرِيْن

Aku (Ummu Salamah) berkata: “Wahai Rasulullah, aku adalah seorang wanita, aku menguatkan jalinan rambutku, maka apakah aku harus menguraikannya untuk mandi karena junub?” Beliau bersabda: “Tidak, cukup bagimu menuangkan air ke atas kepalamu tiga kali kemudian engkau mengguyurkan air ke badanmu, kemudian engkau bersuci.” (Hadits Shahih riwayat Muslim, Abu Dawud: 251, an-Nasaai: 1/131, Tirmidzi:1/176, hadits: 105 dan dia berkata: “Hadits Hasan shahih,” Ibnu Majah: 603)

* Ringkasan tentang mandi junub bagi wanita adalah:

1.Seorang wanita mengambil airnya, kemudian berwudhu dan membaguskan wudhu’nya (dimulai dengan bagian yang kanan).

2.Menyiramkan air ke atas kepalanya tiga kali.

3.Menggosok-gosok kepalanya sehingga air sampai pada pangkal rambutnya.

4.Mengguyurkan air ke badan dimulai dengan bagian yang kanan kemudian bagian yang kiri.

5.Tidak wajib membuka jalinan rambut ketika mandi.

Tata cara mandi yang disebutkan itu tidaklah wajib, akan tetapi disukai karena diambil dari sejumlah hadits-hadits Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Apabila dia mengurangi tata cara mandi sebagaimana yang disebutkan, dengan syarat air mengenai (menyirami) seluruh badannya, maka hal itu telah mencukupinya. Wallahu A’lam bish-shawab.

* Hadits-Hadits Tambahan tentang Mandi Junub :


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي الْمَاءِ فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

(BUKHARI - 240) : Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya dari 'Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa jika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mandi karena janabat, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya, kemudian berwudlu sebagaimana wudlu untuk shalat, kemudian memasukkan jari-jarinya ke dalam air lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya."

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ كُرَيْبٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَتْ مَيْمُونَةُ

وَضَعْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاءً لِلْغُسْلِ فَغَسَلَ يَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى شِمَالِهِ فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ثُمَّ مَسَحَ يَدَهُ بِالْأَرْضِ ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى جَسَدِهِ ثُمَّ تَحَوَّلَ مِنْ مَكَانِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ

(BUKHARI - 249) : Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il berkata, telah menceritakan kepada kami 'Abdul Wahid dari Al A'masy dari Salim bin Abu Al Ja'd dari Kuraib dari Ibnu 'Abbas berkata, Maimunah berkata, "Aku menyiapkan air mandi untuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau mencuci kedua telapak tangannya dua atau tiga kali. Kemudian beliau menuangkan air ke telapak tangan kirinya dan membasuh kemaluannya, kemudian beliau usapkan tangannya ke tanah, kemudian berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung, lalu membasuh wajah dan kedua tangannya. kemudian beliau mengguyur seluruh tubuhnya. Setelah itu beliau bergeser dari tempatnya semula, lalu mencuci kedua kakinya."

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَحْبُوبٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ كُرَيْبٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَتْ مَيْمُونَةُ

وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالْأَرْضِ ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ وَغَسَلَ رَأْسَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ

(BUKHARI - 257) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahbub berkata, telah menceritakan kepada kami 'Abdul Wahid berkata, telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Salim bin Abu Al Ja'd dari Kuraib mantan budak Ibnu 'Abbas, dari Ibnu 'Abbas berkata, Maimunah berkata, "Aku menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau lalu menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya lalu mencuci kemaluannya, setelah itu menyentuhkan tangannya ke tanah. Kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung. Kemudian membasuh muka dan kedua tangannya, lalu membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya .Wallahuu'alam

Rabu, 18 Juli 2012

ღ♥ CIRI AKHWAT PENGHUNI SURGA DLM PANDANGAN ISLAM ♥ღ


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saudaraku fillah...
Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati.


Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga.


Diantaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?”
(QS. Muhammad : 15)


“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al Waqiah : 10-21)


Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, diantaranya :


“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.”
(QS. Al Waqiah : 22-23)


“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.”
(QS. Ar Rahman : 56)


“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 58)


“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : 35-37)


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau :
“ … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.”
(HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu)


Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan : “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih Al Jami’ nomor 1557)


Apakah Ciri-Ciri Wanita Surga ?


Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga?

Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?

Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.


Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Diantara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :

1. Bertakwa.

2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.

3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.

4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.

5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.

6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.

7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.

8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.

9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.

10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.

11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.

12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).

13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.

14. Berbakti kepada kedua orang tua.

15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.

Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga dalam kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423.

Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

“ … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’ : 13).


Semoga kita termasuk sebagai hamba Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang berkesempatan dan diberikan hidayah serta kekuatan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala; untuk menjadi Penghuni-Penghuni Al Jannah Tanpa Hisab dan Adzab. Allohumma Aamiin..


Wallahu A’lam Bis Shawab.

Rabu, 20 Juni 2012

Pesanan Imam Al-Ghazali

Pesanan Iman Al-Ghazali Tentang Kawan
Sabda Rasulullah s.a.w yang maksudnya: “Tiga perkara yang boleh mengeratkan persahabatan dengan saudaramu iaitu memberi salam apabila bertemu dengannya dan menyediakan tempat duduknya dalam sesuatu majlis serta panggilah ia dengan nama yang paling disenanginya.”
Riwayat Al-Tabrani
Huraian:
  • Kita hendaklah sentiasa mempamerkan keperibadian seorang muslim dalam setiap pergaulan kerana ia merupakan aset penting bagi kejayaan diri serta organisasi yang dipimpin.
  • Tutur kata yang baik, beradab dan dipenuhi unsur-unsur keikhlasan akan memberikan motivasi yang paling berkesan kepada setiap individu dalam masyarakat sekeliling sehingga membentuk kualiti ummah yang terbaik dan menjadi contoh kepada yang lain.
  • Jika kita mahu dihormati maka kita hendaklah terlebih dahulu menghormati orang lain sama ada dengan mengucapkan salam, bersikap peramah dan mengutamakan keperluannya. Ini dengan sendirinya akan menerbitkan perasaan hormat orang itu terhadap kita dan seterusnya menimbulkan rasa kasih dan sayang antara satu sama lain.
Apakah ciri-ciri seorang sahabat yang baik? 
Nasihat yang boleh diikuti dalam membina persahabatan ialah sebagaimana pesanan al-Qamah (seorang sahabat Rasulullah SAW) kepada anaknya:
“Wahai anakku, sekiranya engkau berasa perlu untuk bersahabat dengan seseorang, maka hendaklah engkau memilih orang yang sifatnya seperti berikut:
  1. Pilihlah sahabat yang suka melindungi sahabatnya, dia adalah hiasan diri kita dan jika kita dalam kekurangan nafkah, dia suka mencukupi keperluan.
  2. Pilihlah seorang sahabat yang apabila engkau menghulurkan tangan untuk memberikan jasa baik atau bantuanmu, dia suka menerima dengan rasa terharu, jikalau ia melihat kebaikan yang ada pada dirimu, dia suka menghitung-hitungkan (menyebutnya).
  3. Pilihlah seorang sahabat yang apabila engkau menghulurkan tangan untuk memberikan jasa baik atau bantuanmu, ia suka menerima dengan rasa terharu dan dianggap sangat berguna, dan jika ia mengetahui mengenai keburukkan dirimu ia suka menutupinya.
  4. Pilihlah sahabat yang jikalau engkau meminta sesuatu daripadanya, pasti ia memberi, jikalau engkau diam, dia mula menyapamu dulu dan jika ada sesuatu kesukaran dan kesedihan yang menimpa dirimu, dia suka membantu dan meringankanmu serta menghiburkanmu.
  5. Pilihlah sahabat yang jikalau engkau berkata, ia suka membenarkan ucapan dan bukan selalu mempercayainya saja. Jikalau engkau mengemukakan sesuatu persoalan yang berat dia suka mengusahakannya dan jika engkau berselisih dengannya, dia suka mengalah untuk kepentinganmu

Tukar Ucapan Harian Kita

Bagaimana ucapan salam yang sebenar-benarnya disyariatkan?
Jawapan:
“Bahawa sudah bertandang seorang lelaki kepada Rasulullah seraya mengucapkan Assalamualaikum. Nabi bersabda “Sepuluh kebaikan”.
Kemudian datang yang lain pula sambil mengucapkan “Assalamualaikum warahmatullah”. Nabi bersabda “Dua puluh kebaikan”.
Kemudian datang yang lain lagi dan mengucapkan “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”. Baginda Nabi bersabda “Tiga puluh”. (Hadis riwayat Abu Daud dan al-Tirmiziy)
saya sayang ummi'
Hari ini kita meninggalkan orang tua kita,
akan datang anak-anak pula meninggalkan kita.
Meskipun jasad tidak bersama,
doa sekurang-kurangnya 5 kali sehari
jangan sekali-kali kita lupa kirimkan kepada mereka.

Jumat, 08 Juni 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Terdiam diri seketika tatkala dalam sedang asyik berjuang, tiba2 hadir sebuah warkah misteri yang begitu menyentuh kalbu….

~Aku Suka Dengan Caramu Mencintaiku~

[untukmu]



Dalam kisah ini ada dua hamba Allah yang sedang di uji keimanannya,
seorang Adam dan Hawa. Berhadapan dengan ujian mengenai soal Cinta dan perasaan yang di mana keduanya belum siap untuk melangkah ke depan,iaitu pernikahan...

Maka dari itu apa yang harus mereka lakukan adalah MENCINTAI DALAM DIAM…
kata-kata inilah yang menjadi tiang,dan mereka bersepakat untuk berteman…..

Adam itu sempat mengirimkan warkah cinta berbau syurga,jika aku simpulkan, warkahnya itu berbunyi…



AKU CINTA KAMU KERANA ALLAH..
sering aku mendengar bicara "Cinta" ini, bahkan mungkin sejak aku di bangku sekolah lagi,
tapi bicara "Cinta Kerana Allah", baru saat ini aku mendengarnya tika aku mengenalmu,

lalu apakah yang dinamakan "Cinta Kerana Allah"itu?

jika sekarang aku mengatakan….

"wahai Ustazah,aku mencintaimu kerana Allah",
apa yang membuatmu mempercayai kata-kataku?
aku rasa bukan kerana aku menuruti semua kemahuanmu dan membiarkan kau melakukan apapun yang kau suka bukan?
bukan...aku rasa bukan itu..



maka akan aku katakan "Aku Mencintaimu Kerana Allah..."

ketika aku menyayangimu kerana aqidahmu,

ketika aku meluruskanmu kerana tak ingin kau berbelok arah..

ketika aku mendoakanmu tanpa kau tahu..

ketika aku berlapang dada dengan teguranmu..

ketika aku tersenyum untuk kebahagiaanmu..

ketika aku menguatkan saat kau mulai terjatuh..

ketika aku sekuat tenaga tanpa jemu membantumu..

ketika aku begitu cepat melupakan kesalahanmu…

ketika aku membuka lebar-lebar pintu kemaafan untukmu..

ketika aku menjaga rahsiamu..

dan ketika terkadang aku perlu melepaskanmu dengan penuh keikhlasan..

jika Allah yang memintaku untuk mencintaimu dan aku melakukannya,dengan izin Allah dan semoga hanya kerana Allah..

Sahabatku,apa kau juga "mencintaiku kerana Allah"?.......

(inilah penyampaian seorang adam)



subhanAllah,aku bergetar membacanya dan sangat kagum akan kesolehannya,
terima kasih ya Allah,Engkau telah mempertemukan aku kepada hamba yang selalu membawaku ke jalan yang benar.

dan dalam diam, hatiku berbicara,
"Dalam diam aku mencintaimu,aku serahkan rasa ini kepada Sang Pemilik Hati...kerana dengan cara ini aku yakin jika Allah menjodohkan kita,maka Allah akan mempertemukan Kita,
masih ingatkan salah satu ayat Allah yang berbunyi,


"wanita baik untuk laki-laki yang baik dan sebaliknya"
itulah janji Allah yang terkandung dalam kitabNya..

aku belum berani mengatakan "Aku Mencintaimu" kerana aku sendiri belum cukup mencintai Tuhanmu,sebelum aku mengatakan aku mencintaimu,Maka., izinkan aku mencintai Tuhanmu terlebih dahulu..



aku yakin dengan imanmu, kau bisa menjaga izzahku.. Terima kasih aku ucapkan kepadamu wahai Adam yang selalu menyedarkan aku dikala aku lalai..

Maka akan aku jadikan penantian ini sebagai jalan menuju keberkatan dengan

Taqarub ilallah(mendekatkan diri kepada Allah)

Tholabul'ilmi(menuntut ilmu)

islah(memperbaiki diri)

selalu menjaga hijab dan izzahku

di celah-celahan waktuku dengan Rabb ku,ku isi penantianku dengan ukiran tinta cintaku dengan syair Doa untukmu..

aku curahkan segala perasaanku kepadamu dalam lembaran-lembaran diariku selama dalam penantian...


Tentang Cinta Dan Rindu,tentang Harapan dan Doa,meskipun saat ini kau tak tahu surat itu,akan aku berikan surat itu saat waktunya tiba,saat diriku dan dirimu terikat kukuh oleh mitsaqan Ghalizah(perjanjian yang berat)yang Allah telah menjadi saksinya….

biarlah waktu yang bicara,kerana waktu tak pernah berdusta...

InsyaAllah hatiku sentiasa terjaga dalam persinggahan Cinta yang Agung saat ta'aruf ku berlabuh...

InsyaAllah jika Allah menjodohkan kita, moga ia mengalir indah di Mahligai Rumah Tangga..

bila yakin telah tiba,
teguhkan Azzam di dalam jiwa,
kesabaran itu bisa menjadi Bunga…

untukmu calon imam ku...

Jumat, 01 Juni 2012

Izinkan aku menikah tanpa pacaran


Anda bangga dengan wajah cantik anda??
Anda bangga dengan tubuh anda yang indah??
Anda bangga dengan putih tubuh anda??

Bukankah semua itu jika tidak dijaga maka akan menimbulkan fitnah?
Bukankah semua itu apabila tidak engkau tutupi dengan jilbab dan pakaian syar'imu akan menimbulkan sesuatu yang tidak kau inginkan??

jangan kau salahkan jika semua itu terjadi padamu..
ketika auratmu masih kau umbar dengan sesuka hatimu..

jangan salahkan lelaki yang nakal kepadamu sedangkan kamu sengaja mengobralnya untuk dijadikan tontonan gratis untuk mereka secara cuma-cuma..

janganlah berbangga dengan kecantikanmu
jangan berbangga dengan tubuhmu yang indah
jangan berbangga dengan putihnya tubuhmu
akan tetapi anda tak bisa menutupinya sesuai anjuran agama..
dan sedangkan akhlaq kita belumlah seindah fisik kita

NA'UDZUBILLAH....

keindahan bukan untuk dipamerkan....
namun keindahan itu untuk dijaga...
dilindungi...
dari sesuatu yang dapat menimbulkan fitnah..

wanita akan terlihat cantik dengan jilbabnya..
bukan rambutnya yang terurai panjang..

wanita akan terlihat anggun dengan busana syar'inya
bukan dengan hotpants ataupun rok mininya..

wanita akan terlihat berwibawa..
karena inner beauty dan akhlaq mulianya
bukan karena kesombongannya ketika berlenggok-lenggok waktu berjalan..

wanita akan terlihat ketawadu'annya
ketika ia menundukkan kepalanya...untuk menjaga pandangannya dari lelaki bukan mahromnya..
bukan karena ucapan manisnya...

Wahai saudariku..
Cantiklah karena akhlaq baikmu
Bukan karena cantik fisikmu....